Sabtu, 19 November 2011

BRISyariah Terus Kembangkan Pembiayaan Mikro


BRISyariah terus mengembangkan layanan pembiayaan mikronya. Produk & layanan pembiayaan yang sederhana ditujukan kepada nasabah segmen menengah ke bawah.
"Bahkan BRISyariah juga mendidik segmen ini dalam membuat rencana keuangan bisnis sederhana agar usaha mereka berkelanjutan & dapat terus tumbuh," ujar Direktur Utama PT Bank BRISyariah, Ventje Rahardjo, dalam D-8 Islamic Microfinance Workshop yang berlangsung di Jakarta, Jumat ( 11/11/2011 ) .
Secara khusus, bank syariah memberikan layanan berkelanjutan untuk rantai bisnis dari pemasok hingga pengecer.
Demi kesuksesan melayani segmen ini, BRISyariah pun memiliki sejumlah kunci penting. Menurutnya, produk pembiayaan harus sederhana. Artinya, kontrak & penghitungannya mudah dipahami. Produk dan layanan juga beragam.
Mudahnya nasabah untuk mengakses produk & layanan menjadi kunci penting lainnya. Baik itu melalui saluran fisik dan elektronik. Tidak luput pula manajemen risiko yang kuat ditambah dengan mitigasi risiko yang transparan harus dilakukan.
Hasil dari keseriusan BRISyariah melayani pembiayaan mikro ini ditunjukkan dengan portofolio pembayaran yang telah disalurkan kepada nasabah mikro akan mencapai Rp 1,2 triliun sepanjang tahun ini. Melonjak drastis sebesar 176 persen dari periode yang sama tahun 2010 .
Sumber : kompas.com 

Ini Bedanya Ambil Kredit di Bank Perkreditan Rakyat Syariah


Konsep simpan pinjam dengan prinsip syariah kini semakin berkembang. Masyarakat sudah tidak asing lagi dengan keberadaan koperasi jasa keuangan syariah, jasa keuangan syariah hingga, bank perkreditan rakyat syariah (BPRS).

"Dalam operasional bank konvensional basisnya bunga, kalau kita BPRS bagi hasil."
-- Alfi Wijaya
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif
Salah satu yang sekarang kian berkembang adalah BPRS. Lantas, apa sebenarnya perbedaan dalam mengajukan kredit di BPRS dengan bank umum?
Direktur BPRS Harta Insan Karimah (HIK), Alfi Wijaya, kepada KOMPAS.com di Jakarta, Sabtu (12/11/2011), mengatakan bahwa secara legal dan entitas BPRS merujuk pada ketentuan bank syariah yang diatur oleh Bank Indonesia. Ada juga ketentuan dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
"Dalam operasional bank konvensional basisnya bunga, kalau kita (BPRS) bagi hasil," kata Alfi.
Untuk proses administrasi pengajuan kredit di BPRS sebetulnya juga sama dengan perbankan pada umumnya. Hanya, yang berbeda adalah skema pembiayaannya. BPRS mempunyai dua skema pembiayaan, yaitu murabahah dan musyarakah.
Mengenai murabahah, jelas dia, marjin keuntungannya disepakati di awal.
"Orang melihat marjin biasanya bunga. Jadi, sekali disepakati, angkanya tidak boleh berubah," jelas dia.
Angka tidak boleh berubah sepanjang jangka waktu kredit. Sementara bank umum, marjin tersebut bisa berubah.
Sementara itu, skema musyarakah adalah konsep bagi hasil. Di sini, bank berkongsi modal dengan pemilik usaha. Untuk skema ini, Alfi menuturkan, bunga yang dikembalikan ke bank tergantung pendapatan.
"Ada proyeksi keuntungan berdasarkan nisbah yang disepakati," ujarnya.
Misalnya, nisbah yang disepakati sebesar 60:40 bagi nasabah dan bank. Jadi, dari total keuntungan usaha, nasabah mendapatkan 60 persen, sedangkan bank mendapatkan 40 persennya.
Alfi menambahkan, dua skema itulah yang dominan dipakai di BPRS secara umum. Khusus untuk BPRS HIK, skema murabahah lebih dominan ketimbang musyarakah.
Pemberian kredit lewat murabahah bisa mencapai 70 persen dari total portofolio BPRS sebesar Rp 216 miliar per Oktober 2011. Bahkan, usaha BPRS tidak hanya kedua skim itu saja sekarang ini. BI memperkenankan BPRS melakukan gadai, khususnya gadai emas.
"Ini karena aturan BI baru hanya memperbolehkan komoditi tersebut saja," katanya.

Sumber : kompas.com

Krisis Bisa Hantam Indonesia Tahun 2012


JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia bisa dihantam krisis ekonomi sedahsyat yang pernah dialami negeri ini tahun 1997, akibat krisis utang di Eropa dan Amerika Serikat.
Jumlah aliran dana asing alias hot money yang beredar di Indonesia lima kali lipat dibandingkan tahun 1997. Pengetatan likuiditas di negara-negara Eropa, sebagai obat krisis utang beberapa negara anggota Uni Eropa, bisa membuat hot money di Indonesia ditarik keluar.
Ekspor yang terus mengalami pelambatan akibat krisis di Eropa dan Amerika Serikat juga bakal menekan nilai tukar rupiah. Pada gilirannya, krisis utang di Eropa bakal berimbas pada perekonomian Indonesia.
Mantan Menteri Perekonomian, Rizal Ramli, di Jakarta, Selasa (15/11/2011),memprediksi hantaman krisis di Indonesia akibat krisis utang di Eropa bakal sangat terasa pada kuartal pertama tahun 2012.
Rizal mengatakan, penjelasan resmi pemerintah bahwa Indonesia tidak bakal terimbas krisis harus disikapi hati-hati. Persoalannya, krisis tahun 1997 juga akibat pemerintah melenakan berbagai sinyal krisis.
"Penjelasan resmi pemerintah, Indonesia enggak bakal kena krisis; ekonomi dan fundamental ekonomi Indonesia kuat sekali," katanya. "Pernyataan-pernyataan begini sama seperti yang diungkapkan pada tahun 1997-1998 bahwa ekonomi Indonesia fundamentalnya kuat, cadangan devisa besar. Menurut saya, kita harus hati-hati karena cadangan devisa yang besar itu tidak seluruhnya milik pemerintah."
Rizal menyebutkan, dari cadangan devisa Indonesia 110 miliar dollar AS, punya pemerintah paling banyak hanya seperempatnya. Sisanya dimiliki oleh swasta. "Kita kan menganut sistem devisa yang superbebas. Kalau ada apa-apa, swasta ini pasti telepon banknya supaya uangnya dikirim ke luar negeri. Nah sekarang itu, jumlah uang panas atau hot moneylima kali lipat dari tahun 1998," ujar Rizal.
Celakanya, menurut Rizal, pemerintah tidak mampu melakukan reformasi birokrasi sehingga tidak ada perubahan dalam kultur birokrasi.
"Birokrasi masih merupakan penghambat. Yang namanya hot money tidak berhasil berubah jadi cold money, uang dingin. Idealnya, uang panas itu diubah jadi uang dingin masuk ke investasi sektor riil," katanya.
Rizal menunjukkan, sinyal krisis sebetulnya sudah mulai terasa. "Pelan-pelan ekspor Indonesia sudah mulai melambat, dan itu juga terjadi di negara lain. China saja yang hebat sudah mulai slow downkarena dua raksasa ekonomi, Eropa dan Amerika, mengalami pelambatan," ujarnya.
Dampak krisis utang di Eropa, menurut Rizal, bisa terlihat dari dua hal. Dampaknya melalui dua mekanisme. "Satu, mekanisme ekspor. Ekspor Indonesia mulai melambat 2012. Sayangnya impor kita naiknya tinggi terus. Akibatnya, surplus di neraca pembayaran dan transaksinya berjalan makin lama makin kecil. Itu akan memberi tekanan terhadap mata uang rupiah," ungkap Rizal.
Kedua, menurutnya, melalui mekanisme finansial. "Karena krisis, Eropa sedang mengetatkan likuiditas dan sektor moneternya. Dengan begitu, mereka mau tidak mau menarik investasi di portofolio mereka di Indonesia," ucapnya.

Senin, 31 Oktober 2011

IHSG Dibuka Turun Seiring dengan Rupiah

JAKARTA, Selasa pagi (1/11)-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka turun seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang bergerak turun terhadap dolar AS.

          Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta terus bergerak turun dari 35 poin ke posisi Rp8.885 dibanding sebelumnya Rp8.850.

           Sementara itu, IHSG BEI dibuka turun dari posisi 18,59 poin atau 0,49% ke posisi 3.772,25. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) juga ikut turun dari 4,62 poin atau 0,68% ke posisi 670,95 poin.

          Di awal perdagangan saham di BEI, dari jumlah seluruh saham yang diperdagangkan, baru sebanyak 9 saham naik, 73 saham lainnya yang melemah, dan 25 saham tidak bergerak harganya.

          Tercatat frekuensi transaksi perdagangan saham sebanyak 1.048 kali, dengan volume perdagangan mencapai 44 juta lembar saham senilai Rp67,685 miliar.

          Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 389,28 poin (1,96%) ke level 19.475,59, indeks Nikkei-225 turun 67,53 poin (0,51%) ke level 8.920,86 dan Straits Times melemah 37,20 poin (1,30%) ke level 2.818,57.(ant/hrb)

Sumber :
Investor daily indonesia

BII Kembangkan Laba 34 Persen


Bank Internasional Indonesia (BII) membukukan laba bersih sepanjang 9 bulan pertama tahun ini sebesar Rp555 miliar atau tumbuh 34% dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 415 miliar. Total aset BII per 30 September naik 26% menjadi Rp90,8 triliun. Laba tersebut didapatkan dari pendapatan operasional dan nonoperasional dikurangi seluruh biaya.
     
            "Pertumbuhan kami telah menunjukkan hasil yang positif pada profitabilitas. Saya percaya bahwa rencana untuk meningkatkan kinerja & meningkatkan pangsa pasar dengan tetap memastikan kualitas aset yang baik akan terwujud.”
 
           "Dengam menambahkan investasi kami pada infrastruktur, teknologi informasi, dan human capital akan mendukung pertumbuhan bisnis kami yang berkelanjutan," ujar Pjs Presiden Direktur BII Rahardja Alimhamzah dalam siaran pers,

          Pendapatan bunga bersih BII dibukukan meningkat 16% dari Rp2,55 triliun menjadi Rp2,95 triliun dengan net interest margin turun ke 5,28% dari sebelumnya 5,78% pada periode yang sama tahun lalu.

Sumber : www.mediaindonesia.com

Rabu, 28 September 2011

Hatta: Dollar Harus di Bawah Rp 9.000


“Melemahnya rupiah terhadap dollar AS diakibatkan oleh sentimen negatif ekonomi global yang dipicu oleh kekhawatiran oleh memburuknya penanganan krisis di Eropa tetapi, masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan karena cadangan devisa Indonesia masih dalam posisi yang kuat,” ujar Hatta di Jakarta
        Pada tanggal 19/9/2011
Setelah Hatta mengungkapkan perkataanya pada tanggal 19/9/2011 akhirnya Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan BI sepakat untuk membawa nilai tukar rupiah ke level di bawah Rp 9.000 karena didukung oleh menguatnya rupiah atas dollar AS karena fundamental ekonomi Indonesia yang bagus.
"Sebab, intervensi berapapun tanpa disertai oleh fundamental ekonomi yang kuat, maka seberapa besar digelontorkan hasilnya tidak akan memuaskan," ujar Hatta di Jakarta, Jumat (23/9/2011).
Menurut Hatta, penguatan pasar modal juga dilakukan termasuk pada pasar surat berharga negara. BUMN juga dikerahkan untuk memborong SBN agar harganya stabil.
Hatta juga mengungkapkan, kepanikan sempat terjadi di pasar modal asing ketika Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, melakukan Operation Twist, yakni menjual surat berharga mereka yang jangka pendek senilai 400 miliar dollar AS dan pada saat yang sama mereka akan menerbitkan surat berharga jangka panjang.
JAKARTA, KOMPAS.com

Pasar


Pengertian Pasar
Pasar adalah sarana bertemunya penjual (yang menawarkan barang dan  jasa) dengan pembeli (yang memebeli barang dan jasa) untuk melakukan transaksi jual beli. Transaksi adalah suatu kesepakatan yang terjadi antara penjual dan pembeli.
Syarat terjadinya pasar:
  • Adanya penjual dan pembeli
  • Adanya barang atau jasa yg di perjualbelikan
  • Terjadi kesepakatan anatara penjual dan pembeli
Fungsi pasar :
  • Fungsi Distribusi
Agar dapat memperlancar proses distribusi barang dari produsen ke konsumen.
  • Fungsi Pembentukan Harga
Jika terjadi kesepakatan maka terjadilah harga yang sudah disepakati antara penjual dan pembeli setelah proses tawar menawar.
  • Fungsi Promosi
Untuk memperkenalkan produk barang dan jasa kepada masyarakat atau konsumen agar hasil produknya dikenal dan dibeli.
Peranan pasar :
  • Peranan Pasar Bagi Produsen
Bagi produsen pasar dapat mengembangkan dam mempromosikan usahanya sebagai tempat menjual barang atau jasa.
  • Peranan Pasar Bagi Konsumen
Bagi konsumen pasar dapat menyediakan kebutuhan yang diinginkan secara mudah dengan sesuai selera konsumen.
  • Peranan Pasar Bagi Pembangunan
Pasar dapat menunjang kelancaraan pembangunan dan bermanfaat, karena pasar menyediakan berbagai macam barang dan jasa yang diperlukan bagi pembangunan.
  • Peranan Pasar Bagi Sumber Daya Manusia (SDM)
Pasar dapat mengurangi pegangguran dengan memperluas lapangan pekerjaan agar tercipta tenega kerja baru.
Pasar menurut wujud atau fisik :
  1. Pasar Konkrit(nyata)
  2. Pasar Abstrak (tidak nyata)
Pasar menurut luas wilayah :
  1. Pasar Lokal
  2. Pasar Daerah
  3. Pasar Nasional
  4. Pasar Internasional (pasar dunia)
Pasar menurut waktu penyelenggaraan :
  1. Pasar Harian
  2. Pasar Mingguan
  3. Pasar Bulanan
  4. Pasar Tahunan
  5. Pasar Temporer
Pasar dilihat dai organisasi :
  1. Pasar Persaingan Sempurna
  2. Pasar Persaingan Tidak Sempurna
Sumber : Bumi Aksara. “Ilmu pengetahuan sosial EKONOMI”. Djoko Subroto dan Daru  Wahyuni.