Sabtu, 19 November 2011

Investor Asing Keluar, Indeks Merosot Tajam


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 37 poin pada perdagangan akhir pekan, Jumat (18/11/2011). Para investor asing melepaskan sahamnya. Krisis Eropa masih menjadi perhatian para investor.
Pada akhir perdagangan,  IHSG melemah 37,753 poin atau 1 persen menjadi menjadi  3.754,500. Sementara Indeks LQ 45 turun 9,330 poin atau 1,39 persen menjadi  663,924.
Di Eropa, imbal hasil obligasi Perancis dan Spanyol kembali melonjak, menandakan  para investor semakin tidak percaya dengan kemampuan finansial negara tersebut.
Investor asing mendominasi penjualan pada perdagangan hari ini. Transaksi invesor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 404 miliar di seluruh pasar.
Sumber : kompas.com

Bumi Minerals Bukukan Laba Rp556 Miliar


Bumi Minerals telah melunasi sebagian pinjamannya dalam kuartal ketiga ini.

VIVAnews - PT Bumi Resources Minerals Tbk mengumumkan laba bersih sebesar Rp556 miliar pada periode sembilan bulan pertama 2011. Perusahaan masih mampu menjaga kinerja yang baik meski perusahaan asosiasinya, PT Newmont Nusa Tenggara, mengalami penurunan produksi tembaga dan emas di atas 40 persen.

Direktur Utama Bumi Minerals Ken Farrell mengatakan, penurunan produksi Newmont yang bersifat sementara ini disebabkan oleh keterlambatan pengembangan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau. Setelah pembangunan fase 6 diselesaikan pada akhir tahun depan, Newmont diharapkan dapat segera meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan pada awal 2013. "Keterlambatan ini telah kami antisipasi," kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu 19 November 2011.

Sementara itu, Farrell mengatakan, kinerja yang baik didorong oleh kenaikan harga jual produk komoditasnya dan penurunan beban bunga perusahaan. Pada sembilan bulan pertama 2011, perusahaan membukukan kenaikan harga jual tembaga dan emas masing-masing 13 persen dan 30 persen.

Bumi Minerals juga telah melunasi sebagian pinjamannya dalam kuartal ketiga ini. Rasio pinjaman terhadap modal perusahaan cukup baik, yaitu di level 0,18 kali, dan beban bunga perusahaan berhasil diturunkan sebesar 61 persen.

Atas antisipasi ini, Farrell menambahkan, perusahaan hanya membukukan penurunan laba bersih 21 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, Bumi Minerals mampu membukukan laba Rp708 miliar.


Farrell berharap dapat segera memulai produksi bijih besi dari Bumi Mauritania S.A pada awal 2012. Sedangkan konsesi seng dan timah hitam Perusahaan yang dioperasikan PT Dairi Prima Minerals diharapkan dapat memulai produksinya pada semester kedua 2013. "Dengan kondisi diterbitkannya izin pinjam pakai eksploitasi oleh Kementrian Kehutanan sebelum akhir tahun ini."

Sumber : VIVAnews.com

Kalbe Farma Akuisisi Perusahaan Obat Asing


Perseroan gencar memburu perusahaan farmasi di kawasan Asia Tenggara.
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) akan mengakuisisi sejumlah perusahaan farmasi dalam maupun luar negeri pada tahun ini. Perseroan menyiapkan dana penjualan saham hasil pembelian kembali saham (treasury stock) ke salah satu perusahaan asing.

"Kabarnya, perseroan gencar memburu perusahaan farmasi di kawasan Asia Tenggara sebagai langkah ekspansi bisnis ke mancanegara," tutur sumber kepadaVIVAnews.com di Jakarta, Rabu 13 Juli 2011.

Direktur Kalbe Farma, Vidjongtius saat dimintai konfirmasi mengaku perseroan berencana mengakuisisi perusahaan farmasi maupun barang-barang kebutuhan konsumsi. "Betul, kita ada rencana akuisisi perusahaan lokal maupun Asean," tuturnya kepada VIVAnews.com.

Dia menambahkan, saat ini, perseroan sedang dalam proses penjajakan perusahaan-perusahaan tersebut. "Jadi, belum tahu hasil akhirnya," kata Vidjong.

Sedangkan mengenai perusahaan asing yang akan membeli treasury stock Kalbe, Vidjong mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada perusahaan yang berniat membelinya.

Per 31 Mei 2011, PT Bina Artha Charisma memiliki saham berkode KLBF sebesar 8,01 persen, PT Gira Sole Prima (9,39 persen), PT Ladang Ira Panen (8,51 persen), PT Lucasta Murni Cemerlang (8,74 persen), PT Diptanala Bahana (8,76 persen), PT Santa Seha Sanadi (8,88 persen), dan UBS AG Singapore S/A PT Kalbe Farma Tbk sebanyak 7,69 persen. Sedangkan sisanya dimiliki publik.



Pada perdagangan Rabu sore, KLBF ditutup menguat Rp25 (0,70 persen) ke level Rp3.550. PT Deutsche Securities Indonesia dengan kode DB tercatat sebagai broker yang paling banyak mengoleksi saham Kalbe Farma.

Seperti diketahui, perseroan menyiapkan dana sebesar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun untuk akuisisi perusahaan obat lokal guna meningkatkan pendapatan sekitar 15-18 persen pada tahun ini.

Vidjongtius menuturkan, dana berasal aksi korporasi tersebut dari kas internal perseroan. "Kami prioritaskan untuk perusahaan lokal. Jika memungkinkan bisa diperluas lingkupnya ke Asean," katanya.

Sumber : VIVAnews.com

Koperasi Jasa Keuangan Syariah Terus Tumbuh


Deputi Menteri untuk Fasilitas Finansial Kementerian Koperasi dan UKM Pariaman Sinaga menyebutkan semakin banyak BMT (baitul maal wat tamwil) yang memilih untuk berbadan hukum koperasi. Hal itu menjadikan jumlah koperasi jasa keuangan syariah (KJKS) terus bertambah.
“Kenapa banyak BMT memilih badan hukum koperasi karena BMT menganggap koperasi itu menjadi perekat para anggota.
-- Pariaman Sinaga”
Menurut data Kemenkop dan UKM, total koperasi simpan pinjam (KSP)/usaha simpan pinjam (USP), koperasi dan koperasi kredit di Indonesia sebanyak 71.365 unit. Dari jumlah itu, sebanyak 2.508 unit merupakan KJKS/usaha jasa keuangan syariah (UJKS). Total aset KJKS/UJKS ini mencapai Rp 13,23 triliun. Padahal, total aset KSP sendiri hanya Rp 18,72 triliun.
"Dulu (tahun 2010 ) hanya 1.800-an (unit KJKS). Jumlahnya bertumbuh setelah banyak BMT sudah memilih badan hukumnya koperasi," ujar Pariaman kepada Kompas, di acara "D-8 Islamic Microfinance Workshop" di Jakarta, Sabtu (12/11/2011).
Ia mengatakan, kementeriannya mempersilakan peralihan itu terjadi. Menurut dia, pola simpan pinjam konvensional tersebut bisa digabungkan dengan syariah dan bisa dipisahkan.
"Jangan perdebatkan sistem, tapi neracanya beda-beda," lanjut dia.
Apalagi, sekarang ini badan hukum koperasi tidak perlu lagi didapatkan hanya dari pemerintah pusat. BMT bisa mendapatkan badan hukum tersebut dari pemerintah daerah. Ia melihat ada kecenderungan jumlah KJKS ini terus bertambah ke depannya.
"Tampaknya ini akan bertambah karena BMT sekarang memilih untuk berbadan hukum koperasi," ungkapnya.
Namun, ia tidak bisa memperkirakan berapa banyak jumlah KJKS akan bertambah pada tahun depan. Perkiraan itu dengan alasan data akan selalu bergerak dinamis.
SKB
Terkait kebebasan untuk memilih jenis badan hukum, ia menyebutkan, sudah ada surat keputusan bersama (SKB) antara Kemenkop dan UKM, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, Bank Indonesia. Inti surat itu supaya pelaku usaha yang sudah terjun ke keuangan mikro memilih untuk berbadan hukum. Misalnya, jika ingin berbentuk bank, berarti bisa berbentuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), atau bisa berbentuk badan hukum koperasi untuk usaha simpan pinjam.
"Kenapa banyak BMT memilih badan hukum koperasi, karena, BMT menganggap koperasi itu menjadi perekat para anggota. Anggota tidak berbicara saham layaknya jika berbentuk perusahaan," terang Pariaman.
Ia menambahkan, jika BMT berbentuk PT (perseroan terbatas) hanya pemilik modal yang menguasai usaha. Padahal, BMT itu maksudnya untuk menerobos ke lapisan masyarakat terbawah.
"Kesempatan dari koperasi bisa melayani anggota sebanyak mungkin," tambahnya.
Perlahan-lahan, lanjut dia, KJKS ini juga sudah lebih pandai mengelola uang. Itu dianggapnya sebagai sebuah kemajuan karena mengelola masyarakat kalangan bawah bukan perkara mudah. Untuk pengelolaan KJKS ini, Kemenkop dan UKM dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia juga telah melakukan penandatanganan kerja sama, Jumat (11/11/2011). "Ke depan, dengan koperasi yang bergerak memakai pola syariah ini, kita bisa bersama dengan Dewan Syariah Nasional di bawah MUI, nanti bisa jadi keterpaduan. Ini agar mereka melaksanakan (kegiatan koperasinya) pelan-pelan, tapi pasti," kata Pariaman.


                                                                                            Sumber : kompas.com

BRISyariah Terus Kembangkan Pembiayaan Mikro


BRISyariah terus mengembangkan layanan pembiayaan mikronya. Produk & layanan pembiayaan yang sederhana ditujukan kepada nasabah segmen menengah ke bawah.
"Bahkan BRISyariah juga mendidik segmen ini dalam membuat rencana keuangan bisnis sederhana agar usaha mereka berkelanjutan & dapat terus tumbuh," ujar Direktur Utama PT Bank BRISyariah, Ventje Rahardjo, dalam D-8 Islamic Microfinance Workshop yang berlangsung di Jakarta, Jumat ( 11/11/2011 ) .
Secara khusus, bank syariah memberikan layanan berkelanjutan untuk rantai bisnis dari pemasok hingga pengecer.
Demi kesuksesan melayani segmen ini, BRISyariah pun memiliki sejumlah kunci penting. Menurutnya, produk pembiayaan harus sederhana. Artinya, kontrak & penghitungannya mudah dipahami. Produk dan layanan juga beragam.
Mudahnya nasabah untuk mengakses produk & layanan menjadi kunci penting lainnya. Baik itu melalui saluran fisik dan elektronik. Tidak luput pula manajemen risiko yang kuat ditambah dengan mitigasi risiko yang transparan harus dilakukan.
Hasil dari keseriusan BRISyariah melayani pembiayaan mikro ini ditunjukkan dengan portofolio pembayaran yang telah disalurkan kepada nasabah mikro akan mencapai Rp 1,2 triliun sepanjang tahun ini. Melonjak drastis sebesar 176 persen dari periode yang sama tahun 2010 .
Sumber : kompas.com 

Ini Bedanya Ambil Kredit di Bank Perkreditan Rakyat Syariah


Konsep simpan pinjam dengan prinsip syariah kini semakin berkembang. Masyarakat sudah tidak asing lagi dengan keberadaan koperasi jasa keuangan syariah, jasa keuangan syariah hingga, bank perkreditan rakyat syariah (BPRS).

"Dalam operasional bank konvensional basisnya bunga, kalau kita BPRS bagi hasil."
-- Alfi Wijaya
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif
Salah satu yang sekarang kian berkembang adalah BPRS. Lantas, apa sebenarnya perbedaan dalam mengajukan kredit di BPRS dengan bank umum?
Direktur BPRS Harta Insan Karimah (HIK), Alfi Wijaya, kepada KOMPAS.com di Jakarta, Sabtu (12/11/2011), mengatakan bahwa secara legal dan entitas BPRS merujuk pada ketentuan bank syariah yang diatur oleh Bank Indonesia. Ada juga ketentuan dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
"Dalam operasional bank konvensional basisnya bunga, kalau kita (BPRS) bagi hasil," kata Alfi.
Untuk proses administrasi pengajuan kredit di BPRS sebetulnya juga sama dengan perbankan pada umumnya. Hanya, yang berbeda adalah skema pembiayaannya. BPRS mempunyai dua skema pembiayaan, yaitu murabahah dan musyarakah.
Mengenai murabahah, jelas dia, marjin keuntungannya disepakati di awal.
"Orang melihat marjin biasanya bunga. Jadi, sekali disepakati, angkanya tidak boleh berubah," jelas dia.
Angka tidak boleh berubah sepanjang jangka waktu kredit. Sementara bank umum, marjin tersebut bisa berubah.
Sementara itu, skema musyarakah adalah konsep bagi hasil. Di sini, bank berkongsi modal dengan pemilik usaha. Untuk skema ini, Alfi menuturkan, bunga yang dikembalikan ke bank tergantung pendapatan.
"Ada proyeksi keuntungan berdasarkan nisbah yang disepakati," ujarnya.
Misalnya, nisbah yang disepakati sebesar 60:40 bagi nasabah dan bank. Jadi, dari total keuntungan usaha, nasabah mendapatkan 60 persen, sedangkan bank mendapatkan 40 persennya.
Alfi menambahkan, dua skema itulah yang dominan dipakai di BPRS secara umum. Khusus untuk BPRS HIK, skema murabahah lebih dominan ketimbang musyarakah.
Pemberian kredit lewat murabahah bisa mencapai 70 persen dari total portofolio BPRS sebesar Rp 216 miliar per Oktober 2011. Bahkan, usaha BPRS tidak hanya kedua skim itu saja sekarang ini. BI memperkenankan BPRS melakukan gadai, khususnya gadai emas.
"Ini karena aturan BI baru hanya memperbolehkan komoditi tersebut saja," katanya.

Sumber : kompas.com

Krisis Bisa Hantam Indonesia Tahun 2012


JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia bisa dihantam krisis ekonomi sedahsyat yang pernah dialami negeri ini tahun 1997, akibat krisis utang di Eropa dan Amerika Serikat.
Jumlah aliran dana asing alias hot money yang beredar di Indonesia lima kali lipat dibandingkan tahun 1997. Pengetatan likuiditas di negara-negara Eropa, sebagai obat krisis utang beberapa negara anggota Uni Eropa, bisa membuat hot money di Indonesia ditarik keluar.
Ekspor yang terus mengalami pelambatan akibat krisis di Eropa dan Amerika Serikat juga bakal menekan nilai tukar rupiah. Pada gilirannya, krisis utang di Eropa bakal berimbas pada perekonomian Indonesia.
Mantan Menteri Perekonomian, Rizal Ramli, di Jakarta, Selasa (15/11/2011),memprediksi hantaman krisis di Indonesia akibat krisis utang di Eropa bakal sangat terasa pada kuartal pertama tahun 2012.
Rizal mengatakan, penjelasan resmi pemerintah bahwa Indonesia tidak bakal terimbas krisis harus disikapi hati-hati. Persoalannya, krisis tahun 1997 juga akibat pemerintah melenakan berbagai sinyal krisis.
"Penjelasan resmi pemerintah, Indonesia enggak bakal kena krisis; ekonomi dan fundamental ekonomi Indonesia kuat sekali," katanya. "Pernyataan-pernyataan begini sama seperti yang diungkapkan pada tahun 1997-1998 bahwa ekonomi Indonesia fundamentalnya kuat, cadangan devisa besar. Menurut saya, kita harus hati-hati karena cadangan devisa yang besar itu tidak seluruhnya milik pemerintah."
Rizal menyebutkan, dari cadangan devisa Indonesia 110 miliar dollar AS, punya pemerintah paling banyak hanya seperempatnya. Sisanya dimiliki oleh swasta. "Kita kan menganut sistem devisa yang superbebas. Kalau ada apa-apa, swasta ini pasti telepon banknya supaya uangnya dikirim ke luar negeri. Nah sekarang itu, jumlah uang panas atau hot moneylima kali lipat dari tahun 1998," ujar Rizal.
Celakanya, menurut Rizal, pemerintah tidak mampu melakukan reformasi birokrasi sehingga tidak ada perubahan dalam kultur birokrasi.
"Birokrasi masih merupakan penghambat. Yang namanya hot money tidak berhasil berubah jadi cold money, uang dingin. Idealnya, uang panas itu diubah jadi uang dingin masuk ke investasi sektor riil," katanya.
Rizal menunjukkan, sinyal krisis sebetulnya sudah mulai terasa. "Pelan-pelan ekspor Indonesia sudah mulai melambat, dan itu juga terjadi di negara lain. China saja yang hebat sudah mulai slow downkarena dua raksasa ekonomi, Eropa dan Amerika, mengalami pelambatan," ujarnya.
Dampak krisis utang di Eropa, menurut Rizal, bisa terlihat dari dua hal. Dampaknya melalui dua mekanisme. "Satu, mekanisme ekspor. Ekspor Indonesia mulai melambat 2012. Sayangnya impor kita naiknya tinggi terus. Akibatnya, surplus di neraca pembayaran dan transaksinya berjalan makin lama makin kecil. Itu akan memberi tekanan terhadap mata uang rupiah," ungkap Rizal.
Kedua, menurutnya, melalui mekanisme finansial. "Karena krisis, Eropa sedang mengetatkan likuiditas dan sektor moneternya. Dengan begitu, mereka mau tidak mau menarik investasi di portofolio mereka di Indonesia," ucapnya.